Review Komik Locust. Locust mengambil latar tahun 1966, saat gejolak politik memuncak di Indonesia. Cerita berpusat pada Yen, seorang ibu muda keturunan Tionghoa, yang bersama anak balitanya, Min, terpaksa mengungsi ke gudang-gudang tembakau di sebuah perkebunan di Sumatera Utara. Mereka adalah bagian dari komunitas Tionghoa yang menjadi korban kekerasan rasial dan tuduhan tak berdasar sebagai komunis. Di tempat pengungsian yang sempit dan penuh ketakutan itu, mereka tak sengaja membangkitkan bencana lama yang terkubur, memicu tragedi berdarah yang mengulang masa kelam puluhan tahun sebelumnya. Komik ini bukan sekadar horor biasa, tapi campuran mencekam antara fakta sejarah dan elemen supranatural yang membuat bulu kuduk berdiri. BERITA BOLA
Alur Cerita yang Mencekam: Review Komik Locust
Alur Locust dibangun dengan cerdas, berganti antara masa kini pengungsian dan flashback ke tragedi masa lalu di perkebunan yang sama. Ketegangan dibangun perlahan, mulai dari rasa tidak nyaman sehari-hari di gudang yang pengap, hingga munculnya ancaman horor yang tak terduga. Yen sebagai protagonis utama digambarkan sebagai ibu yang kuat, berjuang melindungi anaknya di tengah diskriminasi dan kekacauan sosial. Elemen horornya muncul secara organik, bukan dipaksakan, sehingga terasa seperti kutukan yang memang sudah mengintai tempat itu sejak lama. Twist di akhir setiap bab sering kali meninggalkan pembaca terkejut, memaksa untuk langsung lanjut ke halaman berikutnya. Cerita ini berhasil menjaga tempo tanpa terasa lambat, meski penuh detail emosional.
Ilustrasi dan Atmosfer Horor: Review Komik Locust
Visual di Locust menjadi salah satu kekuatan utama. Gambar-gambarnya detail tapi gelap, dengan penggunaan bayangan dan warna kusam yang memperkuat nuansa mencekam. Ekspresi wajah karakter, terutama Yen dan Min, begitu hidup sehingga pembaca mudah empati dengan penderitaan mereka. Saat elemen horor muncul, ilustrasinya semakin brutal—darah, deformasi, dan makhluk mengerikan digambar tanpa sensor berlebih, tapi tetap artistik. Latar gudang tembakau dan perkebunan terasa autentik, seolah membawa pembaca langsung ke era 1960-an. Atmosfer horornya terbangun dari kombinasi ini: bukan hanya jumpscare, tapi rasa claustrophobia dan ketidakberdayaan yang menyelimuti setiap panel.
Relevansi Sosial dan Pesan Mendalam
Yang membuat Locust beda dari komik horor lain adalah lapisan sosialnya yang tebal. Komik ini tak ragu mengangkat isu kekerasan rasial terhadap komunitas Tionghoa di masa lalu, termasuk pengusiran dan tuduhan tanpa bukti. Kisah ini terinspirasi dari pengalaman nyata, termasuk keluarga sang kreator, sehingga terasa sangat personal dan otentik. Di balik teror supranatural, ada kritik tajam terhadap diskriminasi, ketakutan massa, dan bagaimana sejarah kelam bisa terulang jika tak diingat. Pesannya relevan hingga kini, mengingatkan bahwa horor sejati sering kali datang dari manusia sendiri, bukan hanya makhluk gaib. Komik ini berhasil menyentuh hati sekaligus membuat takut, tanpa terasa menggurui.
Kesimpulan
Locust adalah komik horor Indonesia yang patut diapresiasi karena keberaniannya menggabungkan sejarah pahit dengan elemen mencekam. Dengan alur yang solid, ilustrasi memukau, dan pesan sosial yang kuat, karya ini layak menjadi bacaan wajib bagi penggemar genre horor maupun yang tertarik dengan cerita berlatar lokal. Potensinya untuk diadaptasi ke layar lebar semakin menambah antusiasme, karena visual dan narasinya begitu sinematik. Jika Anda mencari komik yang tak hanya menghibur tapi juga meninggalkan bekas mendalam, Locust adalah pilihan tepat. Karya ini membuktikan bahwa komik tanah air bisa bersaing di level global, sambil tetap rooted pada akar budaya sendiri.











Leave a Reply