Review Komik Avengers: Endgame Prelude. Awal 2026 ini, komik Avengers: Endgame Prelude dari akhir 2018 hingga awal 2019 kembali menarik perhatian penggemar. Miniseri tiga isu ini laris dibaca ulang berkat pengumuman kembalinya film klasik ke bioskop pada September mendatang, sebagai pemanasan sebelum proyek besar Avengers: Doomsday di Desember. Meski pada dasarnya adalah adaptasi cerita Infinity War ke bentuk komik, prelude ini menawarkan perspektif segar atas perjuangan pahlawan melawan Thanos dan pencarian Infinity Stones. Di tengah nostalgia saga Infinity yang semakin kuat, komik ini jadi bacaan ringan tapi mengharukan, terutama bagi yang ingin mengulang momen epik sebelum petualangan baru dimulai. MAKNA LAGU
Isi Cerita dan Adaptasi yang Setia: Review Komik Avengers: Endgame Prelude
Komik ini langsung mengikuti alur Infinity War: Thanos berburu enam Infinity Stones untuk mewujudkan rencana keseimbangan alam semesta. Isu pertama fokus pada serangan awal ke Bumi, pertarungan Hulk melawan Thanos, serta perjalanan Doctor Strange, Iron Man, dan Spider-Man ke Titan. Isu kedua menyoroti aksi Secret Avengers—Captain America, Black Widow, dan Falcon—melawan Children of Thanos, diselingi flashback asal-usul Gamora. Puncak di isu ketiga menampilkan aliansi Avengers dengan Guardians of the Galaxy, pengorbanan di Vormir, pertarungan sengit di Wakanda, hingga jentikan jari ikonik yang menghapus separuh kehidupan. Adaptasinya sangat setia pada film, dengan dialog dan urutan adegan hampir identik, tapi ada sedikit perbedaan kecil seperti penggunaan Power Stone di beberapa momen atau hilangnya detail tertentu seperti Mantis yang lenyap. Cerita tetap mendebarkan, menekankan tema pengorbanan dan persatuan, membuatnya cocok sebagai pengingat cepat sebelum menonton ulang film.
Seni Visual dan Gaya Penyajian yang Menarik: Review Komik Avengers: Endgame Prelude
Seni Paco Diaz jadi kekuatan utama, dengan garis dinamis yang menangkap aksi kosmik dan emosi karakter. Panel pertarungan di Wakanda atau Titan penuh gerak, sementara ekspresi wajah Thanos yang tenang kontras dengan kepanikan pahlawan. Warna cerah Dono Sánchez-Almara memberikan nuansa epik, mirip film, dengan efek Infinity Stones yang glowing mencolok. Meski bukan karya orisinal sepenuhnya, layout halaman luas untuk momen besar seperti Snap terasa impactful, membuat komik ini enak dibaca meski singkat. Di era digital 2026, visual ini tetap segar sebagai adaptasi visual yang solid, cocok bagi penggemar yang suka melihat adegan favorit dalam format panel statis tapi hidup.
Nilai Tambah dan Relevansi Saat Ini
Sebagai prelude, komik ini tidak menawarkan plot baru signifikan, melainkan ringkasan Infinity War plus sedikit backstory seperti masa lalu Gamora. Koleksi trade paperback sering menyertakan bonus cerita klasik tentang Thanos, menambah nilai bagi kolektor. Di 2026, dengan film Endgame kembali tayang dan hype Doomsday yang membawa elemen serupa, prelude ini terasa sebagai jembatan nostalgia. Ia mengingatkan betapa tinggi stakes saga Infinity, tema keseimbangan dan konsekuensi kekuasaan yang masih relevan. Meski ada kritik karena terlalu mirip film tanpa inovasi besar, komik ini berguna bagi pembaca muda atau yang ingin refresh memori tanpa menonton ulang durasi panjang.
Kesimpulan
Avengers: Endgame Prelude tetap jadi tie-in komik yang menghibur dan nostalgik di 2026, dengan adaptasi setia, seni dinamis, dan nilai pengingat epik Infinity War. Kembalinya film ke bioskop membuatnya semakin relevan sebagai pemanasan ringan. Bagi penggemar saga lama, ini cara cepat mengulang emosi Snap; bagi yang baru, pengantar sederhana ke dunia pahlawan super kosmik. Meski bukan mahakarya orisinal, komik ini berhasil menangkap esensi petualangan besar, siap menyambut chapter baru di akhir tahun. Bacalah jika ingin merasakan lagi kegembiraan sebelum era baru dimulai.











Leave a Reply